Power Ranger
Sewaktu
kecil, alih-alih menjadi seorang princess aku lebih memilih menjadi anggota
power ranger. Seriously? yes, it was
a fact.
Disaat teman- teman perempuanku mengidolakan
semua tokoh disney atau kartun-kartun cantik nan semampai lain seperti sailormoon, aku lebih senang menirukan peran power ranger; Pakai atribut sarung
yang looknya lebih mirip maling, pakai topeng plastik yg dibeli dari tukang mainan,
jam tangan hadiah sendal, dan lan-lain. Ketika SD, pekerjaanku juga berkelahi
dengan anak laki-laki. Dengan tangan kosong, sapu, atau apa saja. Kami berperang sampai ikatan rambutku terlepas, sampai bajuku kotor kena sepatu (yes,
it’s a hit) kadang sampai
lebam, but (seingatku) I never told my parents cause it'll be more complicated. Unless about I got
bullying and the reason is because my body is bigger than my other friends at
that time. Aku sering menangis, lebih senang mengasingkan diri, tapi
berlarut dalam keadaan menyedihkan seperti itu aku tidak suka. I think, I
can do something. I’ve gonna do something for stop this. Yes, I have to be
brave. Jika tidak maka keadaan tidak akan pernah berubah dan menjadi lemah
adalah seperti mempersilahkan orang-orang dan pekerjaannya ini menjadi
monster. It would be a big mistake and regretable if I do nothing. Dari situ aku berani membela diri. Alasanku berkelahi lainnya adalah karena membela teman-temanku yang juga sama-sama
dibully. Jika aku mendapati temanku menangis karena diejek kespesialan fisik misal, bersiaplah si pelaku akan kena
labrak dan pertempuran tak bisa dihindari (betapa jahiliyahnya diri ini~). Dan dari kejadian-kejadian itu, karena izin Allah, dunia menjadi lebih indah setelahnya: teman-temanku tidak lagi
dibully, bully-an yang ditujukan kepadaku juga perlahan menghilang, pembully kembali ke jalan yang benar dan
kekuatan berkelahiku cukup diperhitungkan (astagfirullah~)
Semakin dewasa, aku cenderung pendiam dan lebih senang merenungkan pertanyaan dan jawaban di kepala sekaligus. Dengan keterbatasan sudut pandangku yang menganggap dunia ini adalah hitam putih, kukira akan mudah menentukan siapa musuh kita sebenarnya, mana endemik yang harus segera kita lenyapkan, tetapi jawabannya tidak lain ternyata diriku sendiri. Jika saja aku mau sedikit bersabar, dibanding berkelahi aku bisa bertanya kenapa "penjahat" menurutku saat itu bisa berlaku demikian; mungkin mereka belum terbiasa menemukan perbedaan, bisa jadi mereka belum teredukasi bahwa anak perempuan mengalami pertumbuhan lebih cepat dibanding anak laki-laki, atau siapa tau lingkungan terdekatnyalah yang membentuknya menjadi sama-sama pembully. Alih-alih mencakar mukanya, barangkali menawarkan kepadanya pensil yang tak dia bawa atau diam-diam menyimpan makanan ke dalam tasnya adalah solusi yang lebih efektif.
Bagaimanapun, berbicara kepahlawanan hingga saat ini masih menjadi tema yang menyenangkan dan PR untuk direalisasikan. Aku belajar bahwa setiap aksi heroik punya caranya sendiri untuk ditampilkan secara elegan. Maka dari itu aku suka
film-film heroik karena tokoh utamanya adalah jiwa-jiwa baik yang terpanggil
untuk membela kebenaran (jjiah~) dan kekuatannya dipergunakan untuk menolong
orang lain. At least mereka adalah protagonis yang berada di jalan yang benar dan pada saat itu power ranger-lah
yang memenuhi syarat to be a role model : There's a girl, you don’t have to show your
face, your identity still a privacy, and more than that you can save people from
the monster.
* Tamat *

Komentar
Posting Komentar