Beberapa Waktu Menuju Hari Lahirmu
Disinilah aku sekarang. Terperangkap kawanan hujan yang berbaris rapat dan menyergapku dengan dinginnya. Menyeruak. Kulihat satu persatu kedatangannya dengan perasaan yang hanya dimengerti seorang pluviophile-penyuka hujan. Selain rindu – rindu yang sudah kupendam sejak dulu, ah bukan, baru kusadari hadirnya sekarang, aku telah jatuh hati berkali-kali pada apapun yang menyinggung tentangmu. Memang tak selalu, tapi setidaknya ada dalam hariku meski satu detik saja, dimana aku hikmat menikmati ucap lakumu yang terjaga dalam riwayat, baik bersendiri ataupun beramai-ramai, susah dan payah, singkat dan sesaat, kuakui it was the best thing that I’ve ever had, in my life.
Aku sedikit malu
mengakuinya.
Berkali-kali kulewati
seremoni lahirmu, namun tak ada yang mengena sama sekali. Yang kutahu,
orang-orang hanya menghabiskan make up dan pakaian terbaik, bahkan ada yang
rela berhutang. Anak-pinak bercengkerama haha-hihi dengan makanan yang dinanti
untuk dibawa pulang. Parahnya, di sela kejadian kami masih sempat menikmati
daging bangkai saudara kami sendiri. Kekurangan dan kelebihan selalu bisa dibumbui
celaan. Terlihat saja celahnya. Ah, aku, orang-orang ini, acaranya,
kegiatannya buang-buang energi saja. Aku masih belum bisa mengerti, kenapa aku
harus mencintaimu ?
Kenapa kau bisa menjadi
makhluk paling agung, yang dielukan penduduk langit dan bumi bahkan Tuhanmu
sendiri? Tak ada yang spesial dalam kepalaku selain berapa tanggal lahirmu,
siapa nama ayah ibumu, pada usia berapa kau mengemban risalah kerasulan, ya.. hal-hal
semacam itu. Tidak lebih.
Kau adalah anugerah, katanya.
Kata siapa? Aku tak
habis pikir hingga aku membaca sendiri ratus-ratus halaman biografi. Dalam
carut-marut kehidupan sebuah semenanjung di padang pasir sana, Allah menjawab
harapan-harapan yang tak pernah berani diutarakan orang – orang karena demikian
bobroknya. Perubahan adalah fatamorgana. Tak ada cahaya yang berkenan menyiram selain terik nafsu yang membutakan para pemangku kuasa, pemilik harta, dan
kalangan dzolim lainnya yang haus birahi dan eksistensi. Muka merah padam menahan malu
karena kelahiran anak perempuan adalah laut yang tak pernah surut bergelombang
dalam setiap generasi Arab masa silam. Para orang tua harus mengubur bayi mereka hidup-hidup. Perempuan sebagai anak gadis dan istri
adalah komoditi yang kesuciannya dipergilirkan. Diwariskan kepada awam bila
hutang tak kunjung terbayarkan. Orang – orang kecil tak memiliki kesempatan
untuk beraktualisasi diri, bertanya dan mencari tentang kebodohan yang dibuat
para elite atas nama berhala-berhala. Arak dan aurat adalah nafas. Sedang orang – orang
yang waras akalnya adalah batin yang tersiksa luar biasa. Ditangkap, disiksa,
hingga kehilangan nyawa adalah harga yang harus dibayar jika mereka lantang
bersuara. Dan kau, ikut menderita dengan pertentangan batin dan beban pikiran
atas fakta-fakta yang ada. Kau ikut merasakan luka atas kesulitan mereka.
Dalam kontemplasimu yang
panjang, dipikulkanlah kepadamu amanat yang besar di gua hira ketika wahyu
pertama datang. Gemetar luar biasa, takut, tak percaya. Sejak saat itu, kau tak
pernah mengenal lagi kata jeda.
Harimu telah rapat
dengan pergerakan revolusioner sekaligus mendapatkan banyak pertentangan. Dikatai
penyihir, gila, didera secara fisik dan psikis, dilempari kotoran dan batu, diboikot
hingga percobaan pembunuhan berkali-kali. Meski dalam hati para pelakunya mengakui
kebaikan akhlak dan rekam jejakmu, mereka tetap memilih mengkhianati nuraninya
sendiri.
Kau dikagumi musuhmu
sendiri.
Mereka sering mendapati
satu sama lain curi-curi dengar bacaan al qur’anmu hingga subuh hari. Gelagapan
menahan malu. Meski begitu ego mereka tak boleh jatuh. Bagi mereka, kau tetap
mengancam, seruanmu untuk menyembah satu tuhan dan meninggalkan perbudakan atas
nama berhala-berhala itu tetap harus dikecam, sebab kau adalah musuh yang dapat memicu kesadaran kaum kecil untuk beroleh kebenaran dan keadilan. Terlebih, segala apa
yang telah mereka raih harus tetap abadi. Pamor mereka tak boleh kalah.
Berapa banyak hari-hari
pilu yang sudah kau lalui?
Kudengar kau telah didustakan
dan dikhianati oleh kalangan yang tengah kau perjuangkan haknya di kota lain. Para penduduk Thaif.
Mereka menghinamu dan melemparimu batu. Bahkan seorang sahabat yang pergi
bersamamu tak mampu menghalau karena masifnya. Kalian sama-sama berdarah.
Malaikat hampir memaksamu menadahkan tangan kepada Allah agar ia dapat
menimpakan siksa kepada penduduk mekkah yang telah mengusirmu. Tapi kau enggan,
katamu mereka hanya kaum yang belum mengetahui. “Kuharap akan lahir dari
sulbi-sulbi mereka keturunan yang beriman kepada Allah dan RasulNya.” katamu.
Bukankah manusiawi
ketika manusia membenci sesuatu atau seseorang, ia juga akan turut membenci
apapun yang terkait dengannya? Tapi kau? Ah, kau memang luar biasa. Mungkin
karena itulah akhlakmu menjadi suri tauladan.
Bagaimana seorang
manusia biasa mau melunakkan roti dan menyuapi seorang pengemis tua lagi tuna
netra yang berbicara buruk tentang orang yang menyuapinya setiap hari? Tapi
kau melakukannya. Kau tersenyum mendengarkan dengan seksama sambil terus
menyuapi. Identitasmu tetap rahasia hingga hari dimana kau telah tiada.
Bagaimana bisa seorang manusia menanyakan kemana perginya orang yang biasa meludahinya setiap perjalanan shalat subuh ke mesjid, dan bergegas pergi menjenguknya kala tahu bahwa orang tersebut tengah sakit?
Tapi, kau melakukannya.
Bagaimana bisa seorang
kepala negara tidur beralaskan tikar kurma hingga berbekas di wajahnya, tak ada
perabotan mewah apalagi singgasana. Seorang pemimpin yang rela berpuasa ketika
tiada makanan karena hartanya telah habis dalam dakwah, bahkan kudengar kau
membuat para sahabat menangis karena kau mengikat perutmu dengan kerikil agar
perut laparmu tak terlalu perih. Bagaimana bisa?
Kau telah membuatku
hatiku berkecamuk oleh harapan bahwa akulah salah satu orang yang kau bicarakan
bersama para sahabatmu 1.400 tahun silam. Saudara di masa mendatang, yang tak pernah
melihatmu tapi mau beriman dan mengikuti seruanmu. Kau merindukannya.
Kau telah membuatku
hatiku menghancurkan dirinya sendiri, karena gagap menyahut titah lirih yang
kau ucapkan sebelum kau wafat. Shalat masih terasa berat, terlebih aku juga lalai memelihara
orang-orang yang lemah. Terasa lekat di telingaku “ummati.. ummati.. ummati.” kau
bahkan tak ingat sanak family. Bisa-bisanya kau memastikan kabar kami pada
Jibril sebelum pergi. Terlebih, kau merelakan diri untuk menanggung sebagian
sakit sakaratul maut seluruh umatmu kepada dirimu sendiri? Apa yang membuatmu
begitu mencintai kami?
Kukira kisahmu akan usai dengan tangis kehilangan yang tak tergantikan. Aku kira cukup bagiku dengan menangisi peninggalan amal baikmu di bumi, ternyata itu baru awal. Nafas kebaikanmu terbawa hingga hari perjumpaan dengan illahi nanti. Katanya, kau menunggu di telaga kautsar untuk menghilangkan dahaga umatmu, kau takkan masuk surga sebelum dikumpulkan dengan mereka, kau bersujud demikian lama memohon keridhoan Allah untuk memberikan syafaat kepada umat, kau mencari dan memohong berulang kali agar Allah menarik satu persatu umatnya yang berada di neraka selama ada iman di dalamnya. Berulang kali.
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (At Taubah : 28)
Kuharap aku bisa bertemu
denganmu.
Kuharap kau bisa senang
bertemu denganku.
Ya Allah, terima kasih telah mengutusnya ke tengah-tengah kami sebagai
bentuk rahmatMu. Mohon sampaikan solawat dan salam kami padanya. Mohon sampaikan
pula kerinduan kami, perkenankan dengan ridhoMu ya Robb, agar kami dapat bersua
dengannya. Sekali lagi, mohon sampaikan solawat dan salam kami kepada manusia
terbaik sepanjang zaman, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Maafkan cintaku padanya yang
datang terlambat.
Dari perempuan
yang ingin diakui sebagai umat,
NR.


Komentar
Posting Komentar