Pesan Lama
Untuk kata - kata, waktu, dan segala materi yang belum bisa kami beli. Sedetik lalu kami beranikan diri meminjam khayal seseorang, menyuruhnya menulis, dan membacakannya padamu.
Dari sepasang orang tua, yang kau
panggil Ibu dan Bapak.
Nak, bagaimana harimu?
Semoga kau tak menjadikan sarapan dan makan siang
menjadi satu waktu. Makanlah, sesibuk apapun harimu. Meskipun sesuap,
sempatkanlah.
Nak, kami hanya ingin bilang agar kau tak perlu risau mengenai
mimpi-mimpi yang kau gantungkan ke langit setiap dini hari. Sebisa mungkin kami
akan berusaha mewujudkannya. Kami akan terus mengeruk bumi dan bertarung dengan
segala hiruk pikuknya buatmu. Kami takkan lelah meski harus menyusun tulang
kami yang patah demi bisa berdiri tegak mengetuk pintu langit setiap saat. Demi
membuat doa – doa panjang buatmu. Hanya tentang kamu.
Maafkan kami ya nak, kami menua.
Jika kami punya waktu luang lebih banyak, ingin sekali
kami belajar hal – hal baru, trend – trend atau apalah itu namanya. Kami sedikit
sedih karena tak bisa menjadi teman yang asyik buatmu. Kami gagap teknologi,
kolot, dan sok tahu. Jika ada obat manjur yang bisa merubah keadaan dalam
semalam, kami pastikan kamilah orang pertama yang meminumnya. Maaf ya, kalau
dalam banyak kesempatan kami membuatmu malu. Sebenarnya kami ingin cermat
dengan istilah-istilah yang ilmiah dan keren dan bisa membalas
retorika-retorikamu yang tinggi dan agung tanpa harus mendongak dan merasa buta.
Tapi nak, kami terlalu tua. Kami payah untuk mengenyang pendidikan baru setiap
harinya. Kami terlalu disibukkan oleh apa-apa yang bisa kau pajang dan kenakan.
Maafkan kami ya nak, sekolah kami tidak tinggi.
Nak, jika suatu hari nanti, riuh tepuk tangan telah
utuh menjadi milikmu, kuharap kau mau berbalik sejenak ke sebuah sudut tak
tersiram cahaya di belakang sana. Tempat kami berdiri dengan tepuk tangan
paling gaduh, sorak sorai dan senyuman paling tulus berbahagia dengan
kebahagiaanmu. Senyumlah untuk kami, nak. Biarkan kami melihat binar yang sama ketika
kau pertama kali membuka mata.
Atau, kalaupun suatu hari nanti, kau dikecewakan
semesta dan tak memiliki sepotong obatpun untuk mengobati, hampirilah sudut tak
tersiram cahaya itu, sebab kami masih akan berada di sana. Menunggu kau meraih
saku dan menekan angka-angka milik kami di telepon genggammu. Kami tunggu kau
siap bertukar kabar, mengadu, menertawakan teka-teki takdirmu yang senang
bercanda dan berdua tersedu menangisi pilu.
Atau jika suatu hari nanti, kau harus pergi lagi dengan
jemari asing yang telah halal di hadapan Robb semesta alam, kami siap bersandiwara
rela yang kesekian kali. Tidak apa-apa nak, berjalan saja. Biar kami diam –
diam merasa sesak sendiri dengan kenyataan bahwa kau telah dewasa dengan segala
hal terbaik yang kami miliki. Dan untuk setiap bisik adzan dan solawat di
telingamu, tentang sentuhan dan riang mata yang binar, tentang celoteh dan
rambutmu yang lembut tersandar dalam pelukan kami, hanya akan menjadi klise
yang kami nikmati kala sendiri.
Maafkan segala hal yang tak bisa kami berikan padamu
ya. Maafkan segala ketidakmampuan kami. Semoga kau bisa mendapatkan apapun yang
tak kau dapatkan dari kami. Semoga kau menjadi anak yang paling berbahagia di
muka bumi.
Baik-baik ya nak dimanapun berada. Jangan tinggalkan
solat, kunci pintu sebelum tidur. Nanti kalau ada kesempatan insyaAllah kami
hubungi lagi. Jangan sungkan untuk pulang ya nak, kapanpun kau merasa jauh. Karena
sampai kapanpun kami akan tetap menjadi orang yang sama yang berdiri di sudut
tak tersiram cahaya. Menunggumu.
Rumah, pada bulan Desember di penghujung tahun.
Salam sayang,
Ibu dan Bapak.


Komentar
Posting Komentar