Ya Allah, Aku Ingin Hidup.
Kau tahu?
Malam, tanpa-Mu hanyalah canvas hitam yang muram.
Dalam pekat, kerap kali ku mengoceh bahwa Kau, tak pernah menghadiahiku sebuah fajar. Kau adalah Pemurah yang pilih kasih. Aku tak pernah ada dalam list manusia-manusia yang kau berikan "pagi" itu. Aku pikir kau juga meninggalkanku. Kira batinku saat itu.
Aku lelah bahkan untuk sekedar melangkah. Benar, aku memang bukan hamba yang baik. Mereka salah.
Aku bahkan mengutuki siang yang benderang. Bagiku, siang tak lebih dari runut hidup yang panjang dan membosankan. Aku terus tergugu, mengintip sesekali pada batas antara takdir dan ikhtiar. Adakah aku di sana? Dalam list manusia yang baik-baik saja hidupnya?
Sayangnya batang hidung kata enggan muncul ke udara. Aku menangis lagi.
Bukan sekali dua kali aku dibecandai.
Aku ingin bermain, tapi Kau sepertinya mempermainkanku.
Tapi, jika kupikir lagi, memang aku ini siapa? Kenapa aku bisa sesombong itu, ya? padahal,
...aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
...aku tidak pernah meminta mata dan telinga yang bisa melihat dan mendengar.
...aku tidak pernah memilih untuk hadir ke dunia ini, mengecap berulang kebaikan-Mu atas segala hal. Atas kesempatan mengetahui bahwa Kau ada, menyesap ke dalam kalbuku serupa rindu. Terima kasih masih melihatku dari Arsy- sana, dan selalu tersenyum kapanpun aku memanggil-Mu.
Terima kasih karena tidak pernah menyerah kepadaku.
Aku ingin hidup, ya Allah.
Untuk mengenal-Mu lebih baik dan merasa nyaman dalam perjalanan mendekati-Mu.
Selama itu, tolong jangan pernah berhenti mencintaiku.
Aku... benar-benar ingin hidup. Agar kelak bisa pulang menjumpai-Mu. Memastikan ridho-Mu menjadi buah tangan terbaikku.
Bila nanti bertemu, tolong jangan merasa jijik kepadaku ya, Ya Allah ?
Aku benar-benar minta maaf. Aku banyak salah.


Komentar
Posting Komentar