SARJANA MUDA

        Suatu malam, jauh dari hari ini, lusinan bulan barangkali, aku dan Ibu menghabiskan kopi pertama kami tanpa perbincangan. Musik beradu dengan dinginnya malam. Suara parau Iwan Fals membelai-belai. Kami sengaja mematikan televisi.

Aku masih bisa melihat, kala itu Ibu duduk menghadap utara. Pandangannya mencari sesuatu di langit-langit. Mungkin ia ingin berlari bersama air mata yang ingin dilarikannya. Aku meneguk kopiku. Berpura-pura tak melihat. Ibu sering mengutuki fitrahnya yang emosional. Karena itu jika sampai Ibu tahu jika aku tahu, harga dirinya pasti akan cedera. Aku tak mau Ibu tahu.

Berjalan seorang pria muda dengan jaket lusuh di pundaknya.

Di sela bibir tampak mengering, terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak. Wajah murung semakin terlihat. 

Dengan langkah gontai tak terarah. Keringat bercampur debu jalanan.


Engkau sarjana muda, resah mencari kerja. Mengandalkan ijazahmu. 

Empat tahun lamanya bergelut dengan buku tuk jaminan masa depan.


Langkah kakimu terhenti di depan halaman sebuah jawaban.

Tercenung lesu engkau melangkah dari pintu kantor yang diharapkan

Terngiang kata tiada lowongan untuk kerja yang didambakan

Tak peduli berusaha lagi namun kata sama kau dapatkan

Jelas menatap awan berarak. Wajah murung semakin terlihat.


 Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja. Tak berguna ijazahmu. 

Empat tahun lamanya bergelut dengan buku. Sia-sia semuanya.


Setengah putus asa dia berucap : “Maaf Ibu...”

Ibu menangis dengan sempurna. Tapi tak bersuara. Saat itu, kata-kataku bangkrut. Aku memang sering begitu. Andai aku punya beberapa butir koin di tangan, aku ingin beli menu bernama “Apa yang ibu pikirkan?” atau “Apa yang Ibu risaukan?” boleh juga “Jangan risau Bu, aku ada di sini”. Tapi lisanku kadung miskin. Alhasil, karena ulu hatiku kelaparan, aku mulai mengarang tentang Ibu dan sumber-sumber kesedihannya. “Jangan ada aku. Jangan ada aku” Hatiku semakin nelangsa melihat menu paling mahal itu.

“Oh.. bahagianya malam ini..” kata Ibuku.

Aku cemburu. Ibu selalu kaya kata-kata, sedang aku tidak.

Pinterest

Komentar

Postingan Populer