Surat (Dua)

Teruntuk Awan. kutulis surat ini di Bimasakti, pada sepertiga malam.

Semuanya tidak harus sempurna, karena dari kesalahan kita dapat tahu bahwa Tuhan adalah maha pemaaf.
Semuanya tidak harus tanpa cacat, karena darinya kita tahu betapa indahnya saling memapah.
Semuanya tidak harus seperti yang kita mau, karena terkadang kita terlalu sok tau terhadap beberapa hal yang belum sepenuhnya kita tau.
Sebagian dari kita merupakan cobaan bagi sebagian yang lain. Kita semua punya peran, punya andil dan fungsi masing-masing. Jadi apapun kita semuanya sudah dipantaskan dengan kapasitas yang kita miliki. Kita semua penting. 
Kemarin dalam perjalanan aku melihat orang-orang masih membungkuk di ladang-ladangnya, membenamkan benih-benih, berterik-terik. Aku kagum, bagaimana mereka bisa bertahan dari mengeluh? bagaimana bisa mereka bangun dan bergegas lagi setelah menyerapahi hidup yang seakan tak pernah memberi mereka kelayakan?
ah, aku hanya bisa berterimakasih. Berterimakasih karena aku yang manja tidak dalam posisi mereka. Terimakasih karena dengan hati mereka yang lapang, hidup kami semua digantungkan dari benih-benih yang mereka semai.
Hari ini aku baru tahu Awan, bahwa kemuliaan tidak ada hubungannya dengan gelar ataupun kekayaaan.

Bangunlah lebih pagi hari ini, matahari mengadu padaku bahwa ia ingin disapa olehmu.


Salam dari jauh, 




Angin.

Komentar

Postingan Populer