Skeptis



Ada masanya ketika seseorang yang pernah begitu percaya kehilangan kepercayaannya. Ia menjadi marah dan skeptis terhadap apapun, semua hal baginya adalah omong kosong.

Aku juga pernah begitu.

Tapi, apa mungkin aku bisa melakukan itu pada Tuhanku? Jika ya, mungkin aku tak bisa berlama-lama.

Iya, bagaimana bisa? bukankah ketika aku merasa kecewa, Ia-lah yang paling dulu tahu & meraihku? kubayangkan Ia mendekap bahuku ketika aku tersedu dalam sujudku yang pilu. Aku selalu berjanji pada diriku untuk tidak lagi meminta kepadaNya setelah aku marah karena ia terus menghujaniku dengan badai berkali-kali, tapi Ia malah menghadirkan untukku pelangi. Tak hanya itu, Ia merekahkan bunga, meniupkan angin, dan membiarkan mataku yang sinis melihat lagi langitnya yang sudah baik-baik saja. Ia tersenyum padaku, sambil terkadang mengajakku bercengkerama. Dalam surat cintanya yang penuh makna, Ia genapi setiap bagian yang rumpang dalam diriku.

"Nanti, kalau sudah di Syurga tidak akan sakit lagi. Sabar ya, kau akan segera pulih."

Mataku hanya berbayang dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya "Tapi, apa aku bisa kesana?"

Ia tersenyum, "Bisa, selama kau tidak meninggalkanKu."

Tangisku malah menjadi.



Pict by : Luis Dalvan from Pexels (Canva App)

Komentar

Postingan Populer