Secret Admirer



Aku mencintaimu dan mencintai setiap saat yang kuhabiskan denganmu. 

Dari mana ya aku harus mulai? Aku selalu kesulitan untuk menemukan ungkapan yang tepat. Semua tentangmu, kadang terkungkung sendiri dalam dada. Enggan beralih dan tak cukup untuk direka. 

Aku mencintai setiap saat yang kuhabiskan denganmu. 

"Gaji pertama mau kubelikan apa?" 
"Atlas saja !" 
"Atlas saja? Tidak yang lainnya?"
"Tidak, belikan saja atlas yang isinya lengkap. Yang ada baju daerah, rumah adat, pokoknya yang lengkap." 
"Siap! " 
Secinta itu kau terhadap ilmu. 

Aku mencintai momen saat kita menikmati kopi sambil menyelami setiap lirik lagu-lagu lawas. Akustiknya Iwan Fals, dangdut klasiknya Rhoma Irama, soundtrack film-film India, tembang-tembang sunda, hingga genre lainnya. Kau masih tetap menangis setiap kali mendengar lagu sarjana muda milik Iwan Fals. Katamu, liriknya ironi dan relatable dengan fakta-fakta yang terjadi saat ini. Lalu obrolan kita akan berlanjut pada ekonomi negara, perpolitikan, studi banding kepemimpinan di setiap era, hingga setiap isu di kancah dunia. Kaupun akan kembali mengenang betapa harga-harga naik secara fantantis ketika aku dilahirkan. Saat itu reformasi dan terjadi kerusuhan demi memadamkan dinasti. Parah. Tapi lebih parah lagi prahara rumah tangga anak-pinaknya katamu. 

Seperti kawan, kita sering melakukan banyak hal bersama-sama. Jalan, nonton, makan, dan yang lainnya. Kau senang makanan yang super duper manis (that is your guilty pleasure actually) while I'm not. Fanatik dan antitesis terhadap ide diet secara bersamaan. Pengen jadi jahat tapi gak tegaan. Nawar tapi suka nyesel di akhir karena kasihan. Complicated.

Sering kita berbeda pendapat. Kau mengolokku bahwa aku sering salah menyebut warna. Hijau tosca kusebut biru kehijauan tapi gak hijau-hijau amat. Kau juga akan kesal jika aku menyebut warna favoritmu dengan nama kuning gak jelas. 
"Ini tuh namanya putih tulang tau !" 
Okay.

Well, denganmu, aku tak sungkan berbagi kisah. Meski tentu banyak pula rahasia-rahasia yang kita jaga satu sama lainnya tapi, kau adalah rumah yang aku cari pertama kali, untuk kukisahkan hariku dan setiap hal remeh yang terjadi di dalamnya. Kaupun begitu, kau selalu bersemangat menceritakan anak-anak tetangga yang membuat pusing ibunya sambil tertawa, tentang barang-barangku yang dikacaukan keponakan atau harga sayuran dan bahan pelengkap lain yang naik tiba-tiba. By the way biasanya itu adalah prolog untuk mission invisible-mu : "Beres-beres ya.." dan aku akan bersiap melaju secepat kilat. Bukan untuk berbenah tapi untuk melaksanakan panggilan jiwaku. Rebahan. 

"Kebiasaaan...!" 

Lekas kupejamkan mataku. Pura-pura tidur. Dan seperti militan, kau meraih satu demi satu peralatan yang terserak di mejaku sambil menerbitkan kata-kata mutiara.
"Anak perawan, blablabla" 
Kawan, aku tak sanggup melanjutkannya. 

Kau adalah pribadi yang sederhana dan teguh dalam berpantang terhadap sesuatu. Aku selalu suka caramu yang khidmat menjadi pendengar setia, menganalisa, kadang marah - marah sendiri, kadang terlalu emosional, kadang juga terlalu kuat. Ada banyak part dalam hidupmu yang seharusnya membuatmu rapuh, tapi kamu tidak. Aku tidak yakin apa kekuatanmu, tapi katamu salah satu jawabannya adalah aku. Bahagiaku telah menjadi satu dari sekian banyak mimpi yang ingin kau raih. Maka dari itu kau sanggup mengerahkan yang terbaik, memberiku apa yang tak pernah kau terima, sekaligus rela menjadi bodoh supaya aku menjadi pintar. Simbiosis ini sungguh lucu. 

Bukankah kau sering melewati hari penuh kesulitan? Diam-diam, aku pernah mendengar kau terisak sendirian, matamu sembab dan hatiku ikut terluka. Kesedihan lamamu bertumpang tindih dengan ketakutan baru. Kukenang air muka yang sama ketika kau menjadi gadis kecil yang mengempu tugas Ibu dan Ayah untuk adik-adikmu setelah keduanya wafat. Meski tahun berlalu, kau akan selalu berkaca-kaca mengenang harapan kanak-kanakmu untuk dapat menyicip makanan enak seperti teman sebaya, berlibur, atau sekedar membeli baju dan peralatan sekolah. 
"Nenekmu tidak punya uang untuk membelikanku." 

Aku ingin menjadi Ibu untukmu. Aku ingin mengajakmu ke banyak tempat indah di dunia ini, tempat - tempat yang dulu mungkin hanya menjadi fantasimu. Mari kita beli banyak makanan enak dan buku - buku baru. Lalu kita sambung obrolan kita tentang sejarah dunia dan khazanah ilmu lainnya yang kau cintai. Kuakui, kau terlalu pintar bahkan untuk aku yang katanya bersekolah. Jika waktu dulu kau berhasil menyelesaikan program master atau bahkan hingga doctoral, jabatan Menkeu atau Menlu pasti sudah ditangan. Hehe, aku tidak berlebihan kan?. 

Bu, sehatlah dan terus bersamaiku. Kapanpun pandanganku berlabuh padamu aku berdoa pada Allah supaya menjadikan 2 tangan yang kau raih ini adalah sepasang tangan yang sama yang menuntunmu berkeliling ka'bah, dan tangan ini adalah sepasang tangan yang sama yang menuntunmu ke FirdausNya. Aamiin. 

Dariku yang mencintaimu dan mencintai setiap saat yang dihabiskan denganmu. 

NR.


Komentar

Postingan Populer