Titik Terendah
Apa karena orang - orang berhasil berada dalam ekspektasi yang kamu reka untuk dirimu sendiri? Universitas bergengsi, berkerja dengan setelah rapi, mendapat 2 sampai 3 digit gaji, makan di tempat fancy, pernikahan yang mewah, pasangan yang romantis, anak - anak yang lucu, berlibur ke luar negeri, berkarya dan mendapat riuh tepuk tangan disana - sini. Lalu disaat yang bersamaan kamu melihat dirimu yang seolah stuck dan nihil perkembangan. Rasanya jauh sekali dari mereka.
Well, sampai sini ketidaknyamanan itu bisa jadi sumbu produktif kalau kita mau aktif mencari solusi. But, there are times when we overhelmed for all that stuff, getting internal & external forces at the same time. So, hal itu mengakibatkan lahirnya respon ke 2,3, dst dan membuat setan dengan mudah mengambil kendali persepsi kita.
"Dia beruntung punya support system yang mumpuni while I'm not."
"Is Allah punishing me?"
"I think I don't deserve to be loved."
"I want give up..."
Dear, sini yuk, duduk dulu. Betapa banyak hari yang sudah kamu lalui. Maafkan kalau banyak dari mereka yang menyakitkanmu. Kamu pasti merasa sedih. Yuk, puk-puk hatimu mungkin ia sedang butuh diingatkan untuk apa pemiliknya dihadirkan? Mungkin ia butuh disiram atau ini merupakan signal bahwa ada amalan yang terlewatkan?
My dear, dunia ini memang melelahkan dan tabiatnya akan selalu begitu. Ia akan tetap memberi lelah pada siapapun yang berlari, berjalan, merangkak, bahkan pada yang rebahan. Dunia adalah tempat meninggal, bukan tempat tinggal. Kata seorang alim, istirahat seorang mukmin adalah ketika menginjakkan kedua kakinya di dalam jannah. MaasyaaAllah..
Maka dari sini kita perlu mulai berpikir, apakah kualitas kelelahan kita di dunia layak untuk mengharap surga? Apa nilai-nilai ukhrawi akan melekat jika yang kita gigit dalam geraham kita adalah keduniawian? Rasa-rasanya tidak seimbang.
Tapi, bukankah celaka terbesar adalah berputus asanya seorang hamba dari rahmat Tuhannya? kita tidak ingin demikian. Yang kita inginkan adalah menjadi bagian dari setiap pemilik bahu yang meluruhkan keberserahan dalam sujud - sujud yang panjang. Ia menangis dikecewakan bumi, tapi langit bersesak mengambil doa - doanya. Ia disakiti tapi Jibril menebar perintah kepada penghuni langit untuk mencintainya. Maka berbesar hatilah kamu yang sudah berikhtiar, yang bersungguh meninggalkan sesuatu karena Tuhanmu, yang tetap memelihara prasangka baik padaNya, ketahuilah Allah tengah mematik api cintaNya padamu. Nanti, jika kamu menemuiNya kamu baru bisa tahu dan mendengar sendiri betapa ia menyayangimu, betapa banyak pahala sabar dan doa - doa yang ditunda pengabulannya menantimu. Nanti, kalau hikmah sudah singgah, baru kamu akan mengerti, betapa Allah mengambil garda terdepan untuk menjagamu dari bahaya - bahaya besar dan segala hal yang terjadi dalam hidupmu bekerja atas dasar sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, bukan karena kepentinganNya semata.
Finally dear, semoga Allah membantu kita menemui titik terang, menuntun kita agar dapat mengisi sisa hari dariNya dengan maksimal & semangat kebermanfaatan. Di jalan Allah, semoga kita lelah merasa lelah. Dalam setiap aktivitas kita, semoga selalu ada Allah di awal-proses-hingga akhir pengerjaannya. Aamiin..
Keep safe & stay healthy ya. Assalamu'alaikum 😊
Saudariku,
Sungguh, kamu tak jadi redup hanya karena terhantam badai berkali - kali. Kamu bukan satu - satunya yang malang meski orang - orang di dalam layar memukaumu dengan gemintang. Kamu tidak ditinggalkan hanya karena kamu tak memiliki seseorang yang menggenggam tanganmu dalam perjalanan. Kamu hanya selalu lupa bahwa kamu cantik, unik, dan aku mengagumimu karena tak patah oleh segala standar yang diperjualbelikan pasar. Dan lagi, kamu tabah, penuh kasih, dan menenangkan seperti pagi.
Saudarimu,
NR.


Komentar
Posting Komentar