Minggu Magrib
Sumber gambar : @cimeima
Saat itu aku tertinggal rakaat solat berjamaah. Aku berdiri di shaf paling belakang. Tepat di depanku ada beberapa orang mba - mba berniqab yang masih merapikan barang bawaanya. Saat hendak sujud, secara tidak sengaja kepalaku terkena sikut salah satu dari mereka. Benturannya cukup keras dan lumayan sakit sih hehe. Tapi aku abai saja sambil mencoba fokus menyelesaikan rakaat pertamaku hingga akhir.
Tak lama setelah salam, mba itu segera berbalik ke belakang. Dari gelagatnya, sepertinya ia menunggu solatku selesai sedari tadi. Aku cukup terkejut. Dengan merasa bersalah ia menyodorkan tangannya untuk meminta maaf sambil terbungkuk-bungkuk. Ia tampak menyesal. Aku segera meraih tangannya sambil meyakinkan bahwa itu bukanlah masalah besar. Ia masih merasa menyesal dan enggan pergi hingga ia mendapatiku telah ridho sehingga dirinya termaafkan. Kata-kata maafnya berhamburan, tapi yang terlihat olehku saat itu hanya binar matanya yang penuh ketulusan, sedikit berlebihan memang, tapi hanya memandang matanya membuat... perasaanku sedih tak karuan.
Ia kemudian pamit. Dan tinggalah aku dengan hati yang baru saja dicuri. Aku tertegun dan ingin menangis begitu saja. Oh, betapa indah akhlaknya. Sungguh mulia penjejak tutur dan kata Rasul tercinta. Akhlaknya memesonaku. Padahal secara logika, ia bisa saja langsung pergi tanpa harus menungguku menyelesaikan solat. Katakanlah dia tengah terburu - buru dan itu bukan murni kesalahannya sebab kami bergerak secara bersamaan. Oh, Yaa Robb.
Aku jadi berpikir. Betapa akhlak yang baik dapat bertindak sebagai jalan hidayah. MaasyaaAllah. Menyergap tiba-tiba perasaan rindu kepada Baginda tercinta Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam. Habis imajinasiku membayangkan bagaimana perasaan pengemis tua saat tahu bahwa yang melembutkan makanan dan menyuapinya setiap hari adalah nabi yang ia caci maki. Bagaimana perasaan Ukasyah menjadikan modus qisasnya untuk memeluk sebaik-baik makhluk di muka bumi. Aku mengerti desir ragu sampai kapanpun tak bisa mengalahkan cintanya yang menggebu. Ya Rasulullah...
Bagaimana jadinya ya, jika diri ini berkesempatan menerima akhlak darimu secara nyata, disini, di waktu ini, meski nyaliku masih malu - malu dan bermalas ria dalam membuktikan cinta. Allahumma solli 'ala sayyidina Muhammad, Wa'ala ali sayyidina Muhammad.
Kami rindu ya Rasulullah.


Komentar
Posting Komentar