PETASAN


Di tempat tinggalku, menjadi tradisi untuk menyalakan petasan saat perayaan tertentu. Khitanan misalnya. 

Pagi tadi tetanggaku menyalakannya tepat di depan rumah. Lalu tercetuslah obrolanku dengan Ibu Negara. 

"Gimana rasanya ya Ma, saudara-saudari kita di Palestina, Suriah, dan sebagainya." 

Ibu Negara hanya tersenyum dengan pandangannya yang mengawang. 

"Kita menyalakannya dengan sengaja. Untuk bersenang-senang. Sedangkan mereka ketakutan setengah mati, jadi korban, hanya karena orang lain menyengaja bersenang - senang meledakan bom di tanah orang." 

Ibuku bergidik. "Gak kebayang gimana."

"Kita durasi kurang dari 2 menit aja segini kagetnya ya Ma. Apalagi mereka udah puluhan tahun."

"Mereka (pelaku) bisa bersenang - senang sekarang. Tunggu ntar, di akhirat mereka ga bisa ngelak."

 "Untung ya Ma, ada pengadilan Allah yang Maha Adil. Gak akan dirugikan sedikitpun, ga ada amalan yang gak terhitung dan terlewatkan balasannya." 

"Btw, kita juga bakal disidang nanti." Ibu Negara menimpali.

Ah, I see. Rul, udah nyiapin apa nih buat laporan pertanggung-jawaban nanti? 



Komentar

Postingan Populer