Lelaki Pertama Dalam Hidup
Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa aku tak bisa menuntut orang yang kucintai untuk menjadi orang yang paling hebat di dunia, sebab aku juga bukan orang yang paling hebat di dunia.
Kau dan aku saling mencintai. Pernah juga saling mengecewakan. Kita terlalu banyak menerka karena tak pernah berkesempatan untuk duduk bersama dan berterus terang tentang apa yang kita rasa dan pikirkan. Kita terlalu banyak menutupi hari - hari sulit yang kita alami. Kau terlalu keras untukku yang lemah. Kau selalu ingin menang untukku yang keras kepala dan kau terlalu cepat menyimpulkan sedang aku tak pernah berani terbuka. Aku mendapatimu berada di dalam samudera nun jauh dan aku tak memiliki keberanian untuk menyelaminya.
Tapi, kata Ibu kita sangatlah mirip. Hidung, mata, telapak tangan, dan sebagian perangai. Kau adalah aku dan aku adalah kau. Maka dari itu membencimu terasa seperti membenci diriku sendiri. Aku tak mungkin sanggup melakukannya. Belum lagi aku telah diuntungkan oleh kasih sayangmu yang berlebihan. Dengan segala kekurangan yang kumiliki, bagimu aku tetaplah sesuatu yang tak boleh tergores cacat sedikitpun. Aku harus selalu jadi yang utama untuk perlindunganmu, cinta dan seluruh bagian terbaik dari dirimu. Dalam hubungan kita yang kian hari kian canggung, aku selalu percaya bahwa disana, jauh di lubuk hatimu ada lumbung kasih sayang yang tak pernah habis. Yang menyerap banyak waktu untuk mengasuh keluhku, meraba setiap iba, dan merawat dengan doa. Lumbung itu setiap hari dikeluarkan namun tak pernah berkurang, seringkali gadis kecil menangis bahwa perutnya tak lagi cukup menanggung beban. Ia kenyang. Ia menegaskan kalau dirinya bukan anak - anak lagi. Tapi, bukan perempuan namanya kalau tidak pandai bermain retorika. Jauh di lubuk hatinya, ada bunga - bunga bermekaran yang mengundang kupu - kupu untuk hinggap di perut kecilnya. Sekejap ia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia dengan perayaan cinta yang dirayakan kecil - kecilan di ruang tengah yang sedikit redup. Dalam hatinya ada sedikit penyesalan, sebab ia telah terhenti dari menjadi gadis kecil yang berlari ke arah pemilik lumbuk dengan rindu. Ia bertanya - tanya apakah peluk yang dulu menjadi tempat teraman masih terasa meneduhkan? Ah, kini aku telah dewasa Ayah, aku telah tumbuh dengan baik melalui telapak tanganmu.
Tahukah kau, Ayah? setiap kali melihat pandanganmu melangit ke angkasa, rindu rasanya menjejalmu dengan banyak pertanyaan seperti dulu. "Kenapa awan berwarna putih? Jenis burung apa yang tengah melewati kepala kita saat ini? Langitnya cerah berwarna biru kan Yah?" dan ribuan pertanyaan sama setiap harinya. Sekarang, aku bisa mencari semua detail jawaban itu dari ribuan artikel di internet, tapi aku masih belum bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan - pertanyaanku yang lain, "Apa yang Ayah rasakan ketika pertama kali melihatku lahir ke dunia? Apa Ayah pernah takut? Apakah aku telah membuat Ayah sangat kesulitan?" Aku tak bisa menjawabnya sendiri dan tak kuasa menanyakannya. Maafkan aku Ayah karena telah menjadi sebebal ini. Aku harap kau masih mau berbesar hati sebab aku jarang bicara dan lebih banyak menangis. Kapanpun aku merasa terlalu cinta, terlalu bahagia, terlalu berduka, terlalu rindu, haru atau bahkan mati rasa. Seperti yang kulakukan di balik punggungmu ketika kita banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Dalam langit yang redup hingga terangnya, hujan hingga teriknya, saat lapang atau sulit, saat sehat atau dipaksa sehat, aku tak bisa menahan air mataku setiap kali berjanji untuk menjadi sekuat dirimu, yang bertaruh dan merelakan diri hingga titik nadir untuk orang - orang yang kau cintai. Aku hanya bisa terisak menyebut namamu di hadapan Robbku dengan perasaan tak terdefinisikan dan dalam.
Ayah,
Suatu hari nanti, pasti akan tiba masanya ketika seorang lelaki datang meminta izinmu untuk meraih tanganku. Kapanpun waktu itu tiba Ayah harus bersiap melepasku ya? tugas Ayah menjagaku haruslah henti, Ayah perlu rehat dan mulai mencintai diri Ayah dengan baik. Ketika Ayah menjabat tangan seorang lelaki dalam akad nanti, berjanjilah kepadaku untuk tidak menangis. Sebab cinta Ayah telah tertunai dengan paripurna untukku. Aku beruntung telah dicintai lelaki hebat sepertimu, tolong rengkuh aku di dalam relung terdalam dadamu sebagai harapan untuk bertemu dengan Allah Ta'ala di dalam surgaNya. Sebab aku pantas bersaksi untuk semua peluh dan penatmu. Kuharap disana, aku dapat berlari dengan penuh rindu kepadamu, seperti aku kecil dulu.
Ayah, kau selalu punya tempat di dalam hatiku. Jangan khawatir ya, sebab kau adalah lelaki pertama dalam hidupku yang kucintai pertama kali.
Gadis kecilmu,
NR.


Relate banget.
BalasHapusMenarik untuk di baca, semoga tulisan nya bermanfaat ya.
aamiin, semoga. Terimakasih sudah berkenan membaca :)
Hapus