Anaking Jimat Awaking


"Bagaimana rasanya menjadi orang tua?" 

Temanku hanya tersenyum. Kata-kata tak bisa mewakilinya.  

Lambat laut aku mulai memahami bahwa kehadiran seseorang selalu memberi pengaruh baru. Entah itu harapan atau kesempatan, pada fase terbaru dalam hidup manusia, mereka akan mengerahkan energi terbaik, doa dan kecemasan sebagai peluang dadu yang tak bisa dihindarkan. Mereka beriang hati memainkannya, tak masalah dengan mengalah dan berlapang dengan memenangkan selain dirinya.

"Dia harus menjadi lebih baik dari orang tuanya" 

Tapi kebahagiaan terpendam orang tua adalah anak-anak yang ingin menjadi seperti mereka. 

Lebih dari 1 minggu kutahu sepasang Ibu dan Ayah baru menghabiskan malam-malam panjang tanpa istirahat di sudut luar sebuah rumah sakit. Sang ibu masih kesakitan dengan luka jahitan melahirkan. Suaminya bolak-balik tempat kerja-rumah sakit dan masih harus melakukan tugas malam di tempatnya bekerja. 

"Kalian tidak capek?" 

"Di sana bayi-bayiku  juga sedang berjuang. Badan mungil mereka dipasangi banyak selang dan mereka butuh aku. Makanya aku harus kuat." 

Aku hanya tersenyum. 

Suatu siang, sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. 

"Eonni, Dede San sudah tidak sakit lagi sekarang. Dia udah ketemu Nenek dan Kakaknya . Doain ya." 

Ini kehilangan kedua bagi mereka.

"Gimana sekarang?" tanyaku 

"Dia udah dimakamin di samping Kakaknya, Eon. Wah, seru deh mereka bisa ketemu" 

Hatiku berantakan.

Saat aku menyusulnya ke rumah sakit, ia sedang menghabiskan makan siangnya yang terlewat. Kantung matanya bertumpuk-tumpuk dan wajahnya pucat. 

"Maafin ya, ada tamu ga dijamu" katanya cengengesan. "Ga apa-apa kan ditinggal sebentar? aku mau kasih asi pumping ke Dek Sein dulu" 

"Oke" 

Hingga ia kembali. 

"Eon mau cokelat?" tawarnya. Aku hanya meraih tangannya sambil memijat dengan kayu putih. "Cuacanya dingin, kamu jangan sampai sakit." jawabku.

Ia terkekeh lalu suasana menjadi sepi. 

"MasyaAllah ya, kita tidak pernah bisa memprediksi rencana Allah. Padahal yang kondisinya mengkhawatirkan adalah Sein, berat badannya lebih kecil dari San, sering keluar banyak darah dari selang. Tapi, yang dipanggil Allah duluan malah San." temanku membuka kembali pembicaraan. "Aku kaget, dari kemarin malam San jadi sering anfal, denyut nadinya semakin lemah. Kinerja otaknya sudah tak berfungsi tapi tubuhnya masih hangat. Awalnya aku bersikeras untuk menahan dia lebih lama, tapi aku tidak boleh egois. Aku cuma bisikin ke San bahwa aku ikhlas, Ayah San ikhlas. Gak apa-apa kalau San mau pergi. InsyaAllah San ga akan sakit lagi." Matanya mengawang. Hujan mulai turun lagi setelah reda sekitar 1 jam yang lalu. Berjatuhan pada pucuk-pucuk bunga kertas berwarna merah, tumpang tindih dan luruh di sudut atap berombak. Kami menunda perbincangan untuk waktu agak lama, sulit memang jika berbicara dalam sedu sedan.



Komentar

Postingan Populer