Surat Ketiga (Untuk Saudara-Saudariku)
Tiba-tiba aku terkenang
mereka. Entah mengapa. Ah, bukankah sudah seharusnya ya?
Badanku tenang tapi tidak dengan pikirku. Perutku kenyang tapi ada yang tidak baik dengan rasaku. Aku berselimut tapi dadaku masih gemeretak kedinginan. Bisa-bisanya aku bergeming
bahwa nyatamu adalah kisah-kisah kelam pengantar tidur padahal kita satu tubuh.
Bagaimana bisa aku berkhianat atas impuls-impuls syaraf
sedangkan kita terikat oleh dua kalimat syahadat? sebenarnya mustahil bagi kita untuk
saling membelakangi dan menutup mata.
Gelap. Mungkin bagimu dunia
ini tak lagi memiliki pemisah antara maya dan nyata, sebab setiap hari kau masih bermimpi buruk sekalipun kau sedang terjaga. Aku nyaris tak punya jawaban untuk pertanyaan "kapan ini akan selesai?", yang kukenang hanya sepotong episode ketika para sahabat bertanya pertanyaan serupa kepada Rasul tercintanya.
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat."
Begitu yang Allah janjikan. Lalu aku membayangkan bagaimana Allah mendekap orang-orang yang benar imannya untuk kembali memekik takbir, bagaimana hati para Ibu menjadi lapang melepaskan anak-anaknya ke medan juang. Ruang bermain menjadi sepi dan ditinggalkan karena gelak tawa penghuninya telah dikekalkan di taman-taman surga. Mereka meridhoi perpisahan, sebab disana mereka akan saling menanti untuk dikumpulkan kembali.
Getir, rongga dadaku menjadi
basah.
Wahai saudaraku penolong
agama Allah, sesungguhnya kita
ketakutan siang dan malam. Aku begitu takut pada karirku, sementara kau
takut jika subuh tadi adalah subuh terakhirmu. Aku begitu takut dengan
obsesi yang tak bisa kuraih, tapi yang kau takutkan adalah tak membawa lillah
ketika pulang. Demi buncah rasa yang terlalu miskin diurai kata, kudekap
erat hatiku mengadu bersama angin. Di sanubariku, kau telah membuatku payah
sekaligus malu.
Kemari para kekasih Allah, kan
kududukan engkau dalam syahdu malam yang panjang, ruang kala gemintang
memindahkan kerlipnya ke hatimu dalam rupa iman. Doakan ia tersemai dengan
baik, sebab meski parau dan berjerit senyap diantara puing-puing, kuyakin ialah
yang paling dulu menembus arsy-Nya.
Wahai saudariku yang menjadi
kerinduan Rasul, maaf atas laparmu, lukamu, takutmu, dinginmu, sakitmu,
penjaramu, kehilanganmu, penatmu, sedihmu, marahmu, dukamu, gundahmu,
putus-asamu. Maafkan dunia yang mengunyah telinganya, maafkan dunia yang
meneguk kornea mata dan memangku sendiri telapak ringkihnya. Maaf atas ikhtiarku yang seadanya.
"Cukuplah Allah
sebaik-baik penolong dan pelindung bagi kami !" tanganmu menuding ke
langit.
Seketika aku terbelalak pada
apatiku sendiri. Aku ingin menangis karena cemburu. Mungkin kau "Ikhwani" yang Rasul kita maksud, yang ditunggu di telaga untuk dihilangkan dahaga selama-lamanya. Kau telah dirindu syurga dari segala pintu saudaraku. Seandainya disana kita tak menemukan satu sama lain, berkenankah kau mencariku?
Tolong cari aku


👏👏👏
BalasHapus