Separasi (bagian 2)
Utara masih jauh, tapi awan berjalan dengan bersungut. Sebentar ia terdiam dan menengok ke belakang, wajahnya menjadi lesu. Melihat itu angin hanya membuang nafas buntu lantas meraih pundak awan.
"Mari" imbuhnya.
Hati awan berkecamuk, api memainkan daun telinganya.
"Suruh siapa kau melakukannya awan? sebenarnya tidak ada yang bisa memaksamu berbuat sesuatu." Api sedikit nanar menatap getir di pelupuk awan.
"Kau masih bisa berbalik sekarang, tidak ada kata terlambat. Aku yakin bunga akan luluh dan melupakan pilihannya."
Awan tertengadah pada fatamorgana.
"Kau tidak bisa menyakiti hati seseorang begitu saja. Apa kau tidak ingat betapa bahagianya ia menghabiskan waktu denganmu. Menikmati waktu yang berkualitas dengan bertukar pikiran, saling bercanda, saling menghibur. Kau juga bergantung dengan itu kan awan? kau nyaman bersamanya."
Ucapan api sungguh tak meleset sedikitpun. "Benar yang dikatakan api" pikirnya. Awan tak memiliki argumen untuk membantah.
"Kembali awan. Kembali saja. Aku akan membantumu." Api mulai meraih lengannya.
"ALLAH!!!" suara petir dan bangunan rubuh terdengar luruh bersama dari jauh. Awan begitu terkejut, ia segera berlari menuju sumber suara. Sehasta dari surya dilihatnya anak-anak kecil terhunus besi dan tertimpa tubuh orang-orang dewasa. Mungkin mereka adalah Ayah atau Kakak yang hendak melindungi keluarganya. Anak-anak itu menangis ketakutan, darah-darah segar tak lebih menyeramkan dari mata-mata yang terpejam abadi memeluknya. Mereka meramu cekam itu dan menelannya sendiri. Kata-kata gagal dieja sehingga yang keluar dari mulut mereka hanya lolongan dan jerit yang tak lebih dari suara jangkrik bagi para pemburu. Sementara di sudut kota kencana-kencana prima gagal mendarat karena alasan daulat. Wanita-wanita terpaksa menyulam nadi anak-anak mereka dengan nama Tuhannya, sebagian lain melakukannya sambil bersujud demi keselamatan bayi di dalam perut. Ada apa ini?
"Kita telah tiba awan" Angin memasang puzzle jawaban pertamanya. Gambar ini masih sangatlah abstrak bagi awan, apa yang sebenarnya tengah di skenariokan Tuhan?
"Bantu aku menolong orang-orang ini. Mereka perlu pertolongan."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Teduhkan mereka."
"Seseorang seperti diriku? meneduhkan lautan nestapa ini?" tanya awan tak percaya.
"Itu mustahil awan. Jangan hiraukan, kau hanya makhluk biasa." api mencoba menyangkal harapan angin padanya.
"Urusanmu saja belum tuntas awan. Mengapa kau mengurus urusan orang lain yang tidak ada hubungannya denganmu? ada hal lain yang lebih penting yang perlu kau urus yaitu hidupmu sendiri !" Api kembali mencengkeram lengan awan."Mereka tak akan membuatmu bahagia awan. apa alasanmu menolong mereka?"
"Allah." Awan menatap tajam kepada api, segera ia tepiskan cengkeraman itu. "aku melakukan ini untukNya." dengan bergegas ia meninggalkan api.
Awan membentangkan diri dan mengikatkan dirinya pada hulu dan hilir. Dengan penuh kesungguhan ia bekerjasama dengan angin untuk mencipta hujan. Ia merelakan dirinya berkali-kali diterpa kilat dan dipukul gemuruh. Namun tampaknya hujan belum ingin turun meski awan telah babak belur. "apa masih ada yang kurang dariku angin?"
"tunggu, Allah sedang ingin memperkenankan doa hambaNya." angin memaksakan senyumnya meski sama-sama terengah.
Tiba-tiba, cahaya berbias dari wajah bumi. berkerlap-kerlip seperti punggung kunang-kunang di malam hari. Awan keheranan melihat pelita itu datang dari doa lamat-lamat seorang pemotong kayu yang berpeluh, ia menghela nafas lelah sambil menurunkan ranting-ranting kering dari pundaknya. Orang tua itu menadah tangan ke langit sambil berkamit tahlil dan hamdalah. Air matanya menggenang di sudut mata, rupanya ia merasa bersalah karena kesedihannya terhadap hidup mengalahkan rasa sedinya terhadap saudara-saudara di lautan nestapa.
"tunggu, Allah sedang ingin memperkenankan doa hambaNya." angin memaksakan senyumnya meski sama-sama terengah.
Tiba-tiba, cahaya berbias dari wajah bumi. berkerlap-kerlip seperti punggung kunang-kunang di malam hari. Awan keheranan melihat pelita itu datang dari doa lamat-lamat seorang pemotong kayu yang berpeluh, ia menghela nafas lelah sambil menurunkan ranting-ranting kering dari pundaknya. Orang tua itu menadah tangan ke langit sambil berkamit tahlil dan hamdalah. Air matanya menggenang di sudut mata, rupanya ia merasa bersalah karena kesedihannya terhadap hidup mengalahkan rasa sedinya terhadap saudara-saudara di lautan nestapa.
"Fagfirlana ya Robbi...tolonglah mereka, sesungguhnya hanya Engkau sebaik-baik penolong dan pelindung bagi kami." suara pemotong kayu itu begitu lirih.
Petir menyerang awan sekali lagi, sedetik kemudian air turun berhamburan dari celah-celahnya. Satu, dua, lima, puluh, ribu, tak terkira jumlahnya. Payung para pemburu tak dapat menghalau air sehingga mereka lari pontang-panting tak sudi kebasahan. Kencana prima mengambil jatah, mereka merangsek masuk menggiling lelucon daulat. Tubuh orang-orang dewasa di angkat, anak-anak diraih, para wanita yang kelelahan duduk tenang dengan selimut panjang. Hijab yang koyak membasuh rindu-rindu tak bertepi dari sanak pinak yang lebih dahulu pamit. Para pendekar yang kehausan di barat daya meminumnya bersama tangis bahagia, hujan itu membuat debu dan darah kering di pelipis mata dapat luntur dan membuat mata mereka bekerja seperti sedia kala. Mereka memekik takbir sekali lagi, menghambur ke tempat persembunyian para pemburu.
"Allaaaaahu akbar !!!"
Awan menambah hujannya dengan tangis.
*bersambung


Komentar
Posting Komentar