Separasi
Ucapan itu keluar dari lisan bunga dengan tenang. Tepat dihadapannya awan hanya tertunduk diam.
"Jika kita memang ditakdirkan untuk bersinergi, maka kita akan dipertemukan lagi di musim semi selanjutnya, awan. Sekalipun tidak.."
"Sekalipun tidak, maka kita telah menjadi bagian alam yang dicintaiNya." Awan memungkas pernyataan bunga dengan tepat. Bunga tersenyum lega dan mengangguk pelan, air di matanya telah menahan pandangan. Dengan tegar awan kembali melanjutkan perkataannya, "Jangan menyesal bunga, pilihan kita sudah benar. Sekarang, kita bisa lebih percaya diri untuk mengejar cintaNya lagi." ucapnya sambil tersenyum dengan hangat.
Alam terdiam mengelilingi keduanya. Seluruh penghuninya tahu bahwa ada yang terenggut dan tercerai berai dalam rongga dada kedua makhluk ini. Alam mengamini, bahwa kata-kata dalam dialog ini, bagaimanapun buruknya adalah keputusan besar penuh keberanian selepas pergulatan panjang. Keduanya telah bertaruh membunuh dilema-dilema yang memperdayakan dayanya. Mereka sendiri menyangsikan bahwa hatinya sekarang menjadi hujan setelah cukup lama saling meneduhkan. Keduanya telah paham, memelihara ketidaksiapan sejatinya adalah menyuntikan anestesi untuk luka-luka hidup. Yang mereka perlukan adalah obat untuk sembuh, bukan abai terhadap penyakit demi tak merasa sakit.
Angin berarak menyelusup diantara langit, menahan mega turun sejenak demi menyampaikan pesan kepada awan. Mereka tak bisa membiarkan awan bertahan lebih lama. Awan tetap harus pergi. Mereka takkan bergeming meski awan merasa kakinya telah terhujam ke dalam tanah. Hentakan dialog bisu itu membuat awan segera mencari mata bunga yang disembunyikan pemiliknya. Bunga tak mengindahkan, ia enggan menampakan wajahnya yang merah. Ia tak hendak menyajikan kecewa sebagai pemberat langkah bagi keduanya. Tiba-tiba lantai cermin berbias ke udara, di bawah kaki bunga sinar matahari telah mengguyur ke dalam tanah.
"Robbi.." lirih bunga. Air matanya berlarian menimpa kawannya yang lebih dulu jatuh.
"Ya Robbi.."
Bunga tersimpuh sendirian. Ia menangis kehabisan daya di perjalanan, mengigau memanggil Tuhan dengan imannya yang parau.
"Maafkan aku ya Robbi..."
Tuhan berlari dan segera memeluk tubuh guncang bunga dengan erat. "Aku disini, Aku dekat."
Angin berarak menyelusup diantara langit, menahan mega turun sejenak demi menyampaikan pesan kepada awan. Mereka tak bisa membiarkan awan bertahan lebih lama. Awan tetap harus pergi. Mereka takkan bergeming meski awan merasa kakinya telah terhujam ke dalam tanah. Hentakan dialog bisu itu membuat awan segera mencari mata bunga yang disembunyikan pemiliknya. Bunga tak mengindahkan, ia enggan menampakan wajahnya yang merah. Ia tak hendak menyajikan kecewa sebagai pemberat langkah bagi keduanya. Tiba-tiba lantai cermin berbias ke udara, di bawah kaki bunga sinar matahari telah mengguyur ke dalam tanah.
"Robbi.." lirih bunga. Air matanya berlarian menimpa kawannya yang lebih dulu jatuh.
"Ya Robbi.."
Bunga tersimpuh sendirian. Ia menangis kehabisan daya di perjalanan, mengigau memanggil Tuhan dengan imannya yang parau.
"Maafkan aku ya Robbi..."
Tuhan berlari dan segera memeluk tubuh guncang bunga dengan erat. "Aku disini, Aku dekat."


Komentar
Posting Komentar