Separasi (Bagian 3)
Katanya aku
tak memiliki cinta hanya karena aku tak punya sesuatu untuk ditunjukan. Tidak
ada jabat tangan, kata sayang atau bahkan nama seseorang. Katanya aku layak
dikasihani karena tertinggal. Aku terlalu pemilih dan sok jual mahal. Rumit dan
terlalu idealis.
Ujaran-ujaran
itu barulah sekelumit. Aku tak mengingat betul karena mereka terhempas dengan
sendirinya ketika imanku menguap ke awan. Aku memilih tak mengganggu
kenyamananku di jalan ini. Namun, fluktuasi iman kadang membawa dirinya
terkatung-katung di lautan. Jika aku membiarkannya sedikit lebih lama maka ia
akan mengikatkan temali di pinggangku dan dalam sekejap seluruh bagian dari
diriku akan tenggelam ke dasar sana, ke antah berantah tempat dimana aku bisa
melihat kata-kata itu terpental-pental sendirian di kegelapan. Saat itu mereka
sangatlah terang.
Dalam doa
yang kurapal diam-diam, aku mengubah langkah limbungku menjadi tarian estetik
pengawal mega untuk melakukan dialog imajiner dengan iman. Sebisa mungkin
dengan warasku, dengan kecintaan pada diriku sendiri, aku meraih rasa sakit
yang terjuntai menjadi endemik yang tak diindahkan. Disitu, sering aku
kehabisan nafas, keringat dan air mata. Suaraku bahkan ikut serak kehabisan
tawa. Tentu saja, aku memenggal mereka semua hanya sampai kepala. Segala
rasanya aku lumat ke dalam dada.
Jangan
bersedih diriku, mereka tak tahu saja kalau kita memang telah saling mencinta.
Sejak awal kita telah sama-sama belajar mencintai Dzat yang sama. Kata siapa
fitrah itu mati? padahal kita telah memperkerjakan cinta selayaknya kata kerja.
Cinta itu berkembang dengan upaya-upaya ketaatan. Ia mengamankan diri kepada
sebaik-baik penjaga.
Ah, mungkin
kita terlalu dicintai Tuhan. Ia tak hendak membiarkan indera kita bermain-main
dengan api neraka. Oleh karena itu, Tuhan sendiri yang memilih membersamai
kesendirian kita dalam syahdu, meski kutahu bahwa rindu itu berbias bahkan
bertalu sewaktu-waktu, tak mengapa, adakalanya bagi jiwa untuk
menggemakan rasa. Tidak perlu dilawan, namun juga jangan terlalu dimanjakan.
Tidakkah kau tahu? Tuhan terlalu sayang hingga tak rela dzikir kepadaNya
terhalang oleh sesuatu yang belum halal. Begitu baiknya Ia kepadamu dan
siapapun dia wahai diri, yang dijauhkan dalam rangka dipersiapkan. Agar
ridhonya menjadi ganti untuk malam-malam yang dihabiskan dalam pengaduan. Maka
bersabarlah hati, pada saatnya kelak tanyamu akan tergenapkan oleh jawaban,
rindu akan luruh di ruang temu, cangkir putih di halaman belakang akan
berpasang, takkan ada sore yang tergugu dan seperti kata penyair itu, amin akan
menjadi kata yang paling aman untuk iman.
"Jadi bagaimana Bunga?" tanya
udara ikut terduduk di sampingnya.
Bunga menutup catatannya sambil tersenyum
"Jawabannya sama. Tolong sampaikan ya Mba. Mohon maaf."
"Tidak dipertimbangkan dulu? Dia dari
keluarga terpandang dan baik. Dia rela memutuskan kekasihnya demi kau, bunga.
Aku rasa dia akan melakukan apapun untukmu. Kau yakin akan melewatkannya begitu
saja?"
Bunga mengangguk, "Dia perlu
melakukannya demi Tuhan Mba, bukan aku."
Udara mengamini keteguhan Bunga, ia tak
bisa memaksanya lagi.
"Baiklah. Tapi jika aku boleh tahu
ciri seperti apa yang kamu mau?"
Bunga tertunduk senyum menyisir catatan di lengannya. Ekspresi
ambigu bunga membuat udara kembali bertanya. "Apa ada yang sedang kamu
tunggu?"
Bunga tak menimpali rasa penasaran udara, ia tersenyum lantas
meraih tangan kawannya itu dan mengajaknya pergi.
"Mari, kita isi tanah lapang dengan
keindahan dan kebahagiaan. Semoga Tuhan kita menjadi senang."
Udarapun bangkit, mereka berjalan menuju
pagi.


Komentar
Posting Komentar